Jalani Bisnis JetCoaster

  Anda pernah naik jetcoaster ? Senang rasanya ketika kereta naik perlahan dan pada titik puncak meluncur dengan kecepatan penuh. Adrenalin setiap penumpangnya akan meningkat seiring dengan riuhnya tawa dan teriakan mereka. Jet coaster setelah naik akan turun begitu seterusnya.

Bagaimana jika bisnis anda menukik tajam? Masihkah anda sempat tertawa riang ? Inilah yang saya alami selama 20 tahun menekuni industri Multi Level Marketing.

Saya dibesarkan dari industri MLM dan saya cukup paham apa yang harus saya lakukan saat bisnis menurun drastis? Selain mengencangkan ikat pinggang kemungkinan kedua beberapa bagian organisasi bisnis saya akan rontoh secara perlahan seiring dengan menurunnya income saya.

Apa hubungannya ?

Saat bisnis turun, mereka butuh kehadiran leadernya untuk memperoleh dukungan dan mengatasi beberapa problematika yang sedang terjadi. Untuk terjun lapangan tentunya tidak gratis, membutuhkan dana cukup besar apalagi jika sebaran grupnya berada jauh di luar kota luar pulau bahkan luar negeri.

Karena membangun lebih mudah daripada memperbaiki maka seorang leader MLM akan berhati2 dalam memilih kota mana yang akan dibangun.

Karena itulah semakin sukses seorang leader, semakin mudah membangun bisnisnya. Tetapi jika incomenya tidak pasti maka penanganannya juga tidak pasti, terkecuali leader tersebut bersedia mencari sumber dana lainnya termasuk hutang.

Mengapa Income leader MLM tidak stabil ?

Menjadi seorang jutawan apalagi seorang milyuner adalah idaman setiap orang, terlebih lagi merupakan income stabil.

Memiliki penghasilan stabil sangatlah berbeda dengan “pernah” memiliki income yang besar selanjutnya turun dan naik seperti permainan JetCoaster.

Tanpa berupaya menyama ratakan semua leader setidaknya inilah yang saya alami selama 20 tahun terakhir, sebelum saya memutuskan parkir di MLM dan fokus di Allianz.

Ini alasannya penghasil leader MLM tidak stabil :
-Perusahaan baru buka dan cepat ngetrendnya cenderung cepat pula tutupnya.

-Jika ada produk hebat yang laku di pasaran, akan cepat pula diganti produk hebat lainnya, karena produk musiman tidak bisa dijadikan sandaran jangka panjang.

-Semakin populer dan sukses seorang leader MLM semakin besar pula kemungkinannya mereka menghilang, karena di “hijack” pindah ke perusahaan lainnya.

-Tidak mudah membuat para konsumen / member untuk loyal membeli sebuah produk jika akhirnya mereka tahu kualitas produknya tidak sehebat promosinya.

-Marketing Plan / program kompensasi bonus yang fantastis dengan payout melebihi 55% menimbulkan praktik banting harga produk / cutting price.

-Leader MLM dengan life style tinggi, baru bergabung 1-2 thn sudah punya penghasilan ratusan juta. Kebanyakan mereka bangkrut pada saat membayar life stylenya dengan beli mobil dan rumah mewah yang belum waktunya. Mereka terjerumus dalam krisis hutang yang menggerogoti bisnisnya sendiri. 

Ada tiga problem yang sama para pelaku bisnis jaringan yang sudah sukses dan pemula yaitu :

1. Keuangan

2. Keuangan

3. Keuangan

Jika ingin memiliki penghasilan stabil dalam jangka waktu panjang, mereka perlu mempertimbangkan industri asuransi seperti Allianz.
Karakter bisnis asuransi sangat berbeda dengan industri MLM. 

Karakter bisnis asuransi sangat berbeda dengan industri MLM. Anda ingin tahu ? Simak pertemuan Univision Live Today mengenai hal ini. http://youtu.be/IR-HeBP-84Q
Anda akan menemukan rahasia memiliki income stabil dan terus bertumbuh 20% tiap bulannya. Rahasia yang ditemukan : Konsep Persilangan Industri Asuransi dengan Bisnis Jaringan. Ikuti Live Today yang diselenggarakan Univision 

Selama 20 tahun saya mengamati dan mendalami bisnis berbasis jaringan (baca MLM) sangat susah menemukan pelaku bisnisnya memiliki income stabil.
Income Bisnis MLM Tidak Stabil

Faktor yang mempengaruhi tidak stabilnya income para leader MLM sangatlah beragam diantaranya :

1. Kestabilan performa keuangan dan perusahaan MLM. 

Masih banyak praktek oportunistik dari pemilik perusahaan MLM yang menerapkan metode “hit and run”. Begitu sudah membukukan laba yang besar, lebih baik perusahaan MLM ditutup lebih awal daripada dipaksakan untuk tetap berjalan. Selain karena alasan beban cost operasional yang besar, berupa investasi sewa gedung yang “wah” serta menghindari over pay terhadap para distributornya sendiri. Sudah menjadi rahasia umum, begitu beberapa leader MLM mampu membuat gulungan omset dan income yang spektakuler maka tidak lama lagi perusahaan MLm tersebut tutup secara sengaja, dengan alasan yang bisa dicari.

Terlalu banyak leader hebat MLM yang “dikorbankan” oleh pemilik perusahaan sehingga mereka harus berhadapan kembali dengan para membernya untuk menenangkan rasa kecewa dan putus asa mereka. Kondisi seperti ini akan menguras rekening emosi para leader MLM terhadap perusahaan MLm dimana mereka dibayar.

Dua kemungkinan reaksi yang muncul, mereka kapok tidak mau lagi menekuni industri hebat ini atau meniru perilaku bos pendiri MLM dengan beradaptasi menjadi “raja tega”, asal sudah untung besar sudah cukup. Persoalan ada yang kecewa terhadap mereka yang baru saja berinvestasi, baru saja membangun mimpi, baru saja memiliki downline yang semangat terus tutup itu dianggap bagian dari skenario menerima bonus besar.

Dalam kurun waktu panjang, leader MLM seperti ini akan berubah sikap dan karakternya, mereka kehilangan integritas dirinya sebagai mentor dan teladan dalam organisasi bisnisnya.

Berarti income mereka akan sirna setelah perusahaan tutup 2-3 tahun kemudian.

2. Produk Amazing memunculkan Pesaing baru yang lebih murah. Fakta, bisnis MLM akan meledak jika berhasil menghadirkan sebuah rangkaian produk yang unik dan berdaya ungkit tinggi. Seperti Obat Dewa yang bisa mengobati segala penyakit, atau serbuk ajaib bikin cantik dalam hitungan minggu, atau berupa mesin / alat yang bisa bikin awet muda, sembih segala penyakit, dan kata2 promosi bla bla bla lainnya. Masalahnya adalah pada saat produk unik mampu diserap pasar dalam skala ukuran besar, maka perusahaan lain yang mengikuti pula tren tersebut.

Tren produk multi vitamin berubah menjadi tren produk suplemen madu, bergeser tren calsium, ganti lagi spirulina, digeser lagi dengan kloril, muncul yang baru antioksidan, tak lama kemudian stemcell.

Membanjirnya produk membuat harga tidak stabil. Daripada rugi jual dengan harga dasar bukan harga konsumen. Daripada stok menumpuk jual murah saja yang penting sudah dapat bonus dari poin penjualan, maka member baru akan kesulitan untuk bersaing dengan pemilik barang yang lebih banyak.

Keadaan ini membuat income leader MLM tidak stabil.

3. Life style dan gengsi harganya mahal. Tidak banyak industri MLM yang belajar mengenai cara mengelola keuangan mereka, fokus utamanya adalah jualan dan rekrut! Banyak rekrut banyak uang, banyak jualan banyak pula bonusnya. Tapi mereka lup bahwa kantong bisa bocor, karena persoalan menjaga prestise. Leader TOP tentu ingin dipandang sebagai orang berhasil, mereka membeli barang yang telah dimiliki orang kaya yang sesungguhnya. Membeli mobil dan rumah mewah adalah simbol sukses mereka, masalahnya adalah jika membelinya dengan cara hutang.

Memiliki income berapapun menjadi tidak stabil jika 70-90 persen dialokasikan untuk bayar hutang barang mewah, alokasi pengelolaan uang yang terbalik inilah yang membuat mereka semakin jauh dari membernya. Untuk bisa menghandle ribuan titik member mereka, tidak cukup dengan dana 10 juta sebulan bahkan bisa mencapai ratusan juta. Daripada dialokasikan untuk kepentingan perkembangan bisnis member di bawahnya mending dibuat foya2 dan membeli barang mewah lainnya. Semakin lama mereka tidak turun gunung, semakin rapuh pula struktur kestabilan bisnisnya. Sikap serakah dan rasa haus ingin dipuji inilah yang membuat penghasilan Leader MLM menjadi tidak stabil.

Agen Asuransi Allianz di Masa Depan

image

“Bekerja dimana sekarang pak ?”
“Saya di Allianz”
“Oh jadi agen asuransi ya?”
Jika anda sedang bekerja di perusahaan asuransi, hampir 99% komentar penanya adalah anda sebagai agen asuransi.
Beberapa diantara mereka menatap anda dengan suka cita karena ada sesuatu yang mereka butuhkan dari profesi anda, tetapi sebagian besar menatap dengan muka nyinyir dengan jawaban singkat yang mengesankan kurang menghargai profesi anda, seperti “oooooh agen asuransi…” Atau setelah tahu dimana anda bekerja secepat kilat topik langsung dialihkan.

Persepsi masyarakat terhadap agen asuransi masih rendah.
Pernah sebuah survey terhadap 100 mahasiswa yang akan lulus ditanya profesi apakah yang mereka inginkan untuk ditekuni, tidak ada satupun dari 100 mahasiswa yang menyebutkan ingin menjadi “agen asuransi”
Saya tidak tahu stigma negatif ini muncul sejak kapan, dan disebabkan oleh faktor apa, tetapi kita berhadapan dengan fakta di lapangan seperti itu.

Jika anda memperhatikan para pelaku industri ini, setelah melewati fase waktu tertentu antara kurun 5-10 tahun pada umumnya keadaan finansial mereka jauh di atas rata-rata orang kebanyakan. Tidak jarang diantara mereka akhirnya memiliki aset yang bernilai tinggi seiring dengan perubahan performance mereka.
Tetapi tidak jarang pula dijumpai penampilan dan sikap para agen asuransi yang belum teredukasi dengan baik, terutama bagi mereka yang bergabung sekedarnya, sehingga hasil yang mereka peroleh juga tidak nampak menjanjikan.

Pelaku industri asuransi di masa mendatang akan berubah 180 derajat seiring dengan dukungan dari pemerintah Republik Indonesia, yang memaksa seluruh warga negara untuk sadar akan proteksi melalui PROGRAM BPJS KESEHATAN.
Saya memperkirakan asuransi akan Booming sejak 2016 hingga 20 tahun mendatang, karena tidak bisa dipungkiri sebuah negara maju akan mengalami kesulitan memakmurkan warganya jika keuangan mereka terus menerus dikuras oleh biaya kesehatan tanpa dukungan asuransi.
Terutama resiko kebangkrutan yang disebabkan oleh momok sakit kritis seperti serangan jantung, stroke, kanker dan dampak penyakit gula yang menghantui setiap penduduk Indonesia.
Jenis penyakit kritis ini menurut survey badan kesehatan dunia WHO khususnya di negara Indonesia terbilang yang paling tinggi dari negara lainnya.

Allianz sebagai pioner perusahaan asuransi yang paling terkemuka di dunia melakukan terobosan konsep kerjasama dengan para agennya sejak 2014. Konsep Business System Allianz terbilang cukup sukses untuk menarik minat para pengusaha dan Network Builder untuk ditekuni secara profesional.

Konsep Business System Allianz
Business System Allianz memberikan dorongan penuh bagi seluruh man powernya untuk meningkatkan jumlah agennya dari dua menjadi empat, delapan, enam belas seperti perhitungan bilangan eksponensial.
Jika para agennya mampu melakukan hal ini, maka Allianz memberikan kesempatan meraih prosentase bonus paling optimal dengan waktu tempuh yang sangat singkat (cukup satu bulan hingga satu tahun) dibandingkan perusahaan asuransi lainnya.
Perusahaan asuransi yang masih mengacu sistem lama (agency system) menyediakan 3-5 level pencapaian dengan jarak waktu tempuh rata-rata antara 5-8 tahun!

Jika fokus utama manajemen Allianz tidak mengalami perubahan hingga 10 mendatang, bisa dipastikan Allianz Indonesia akan menjadi perusahaan asuransi no.1 di Indonesia melewati perusahaan asuransi pesaingnya. Mengapa demikian ?
Produk yang ditawarkan Allianz hingga saat ini memiliki keunggulan tanpa satupun pesaing, khususnya penyediaan dana tunai paling BESAR jika para nasabah mengalami sakit kritis.
Dengan bermodalkan kualitas produk dan dukungan sistem layanan terbaik dari Allianz, maka akan memudahkan para Business Partnernya untuk terus menerus secara masive memompa pertumbuhan man powernya hingga pada batas tidak bisa lagi dihentikan!

Pertumbuhan Agen Asuransi di Indonesia

Pertumbuhan agen asuransi di Indonesia termasuk bergerak pelan dibandingkan industri MLM, menurut data AAJI (Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia) 2012 total agen asuransi dari 200 perusahaan mencapai 360.000 dengan sebaran yang tidak merata antara satu perusahaan asuransi. Asuransi Prudential memiliki 150.000 man power, sedangkan sisanya 180.000 tersebar di 199 perusahaan. Data tahun 2012 – 2014 jumlah agen asuransi Allianz mencapai kisaran 10.000 – 18.000. 

Dengan dukungan 18.000 agen Allianz mampu mencetak 144 orang MDit yang berpenghasilan 1-15 Milyar pertahun plus 108 agen yang brpenghasilan 500 juta – 1 Milyar per tahunnya.

Perhatikan pula data penetrasi pasar industri asuransi di Indonesia yang masih dalam kisaran 4,5% dari total penduduk Indonesia. Bayangkan apa yang akan terjadi jika penetrasi pasarnya sudah seperti Jepang mencapai 600% (rasio kepemilikan polis asuransi setiap penduduk 1:6)

Perhatikan industri lainnya, seperti Multi Level Marketing, ketika perusahaan memiliki produk dan sistem manajemen yang bagus, ditambah pula dengan dukungan Marketing Plan yang menarik serta terkoneksi dengan seorang leader yang tepat maka dalam waktu singkat jumlah distributor MLM hingga mencapai 7 juta orang ! Itupun dari satu perusahaan MLM.

Apa yang akan terjadi jika 3-5 tahun mendatang jumlah Business Partner Allianz mencapai 1 juta agen? Maka industri asuransi akan bertumbuh melesat mengalahkan industri lainnya yang sejenis. Dan hal ini bukanlah mustahil terjadi di Indonesia,

Untuk itulah sejak dini, setiap Business Executive dan Business Partner Allianz perlu memperlengkapi dirinya bukan hanya dengan skill penjualan dan pelayanan bagi nasabah seperti agen asuransi pada umumnya tetapi dilengkapi pula dengan pengetahuan Kepemimpinan sehingga mereka mampu memimpin ratusan, ribuan hingga ratusan ribu anggota di bawahnya seperti industri MLM.

Peranan Support System

Support System dalam Allianz menjadi sangat mutlak diperlukan, karena memberikan edukasi ribuan orang dalam waktu yang bersamaan tidak akan cukup memadai jika hanya mengandalkan fasilitas kantor yang dimiliki Allianz.
Sistem edukasi bagi para partner bisnis Asuransi Allianz harus lebih terbuka, sederhana dan mudah diakses melalui channel edukasi manapun.
Salah satu referensi bagus untuk mengembangkan skill kepemimpinan adalah literatur kepemimpinan John C Maxwell, Ken Blancard atau Steven R Covey.

Mengelola 100 nasabah sangat berbeda dengan mengelola 100 agen!

Blog di WordPress.com.

Atas ↑