(Untuk Apa) Kaya (Jika Tidak) Bahagia


Untuk apa Kaya jika Tidak Bahagia ?

Bagi agen asuransi pemula yang memiliki kecondongan untuk menjalani hidupnya penuh dengan berkah dan terbebas dari perasaan berdosa, pikiran ” Untuk apa kaya jika tidak bahagia” seringkali mengganggu.

Apalagi jika agen tersebut mulai bergaul dengan agen asuransi yang telah menjalani bisnis ini dalam kurun waktu 5 tahun ke atas.

Tahukah anda bahwa life style seorang agen asuransi Allianz jika belajar dengan baik dan bekerja dengan arah yang benar maka kehidupan finansialnya benar-benar berubah 180 derajat!

Profesi agen asuransi adalah salah satu profesi yang bisa membuat anda kaya raya, memiliki banyak uang untuk membeli apapun impian anda, memiliki waktu yang banyak dengan keluarga atau dengan agenda kegiatan spiritual anda, bebas dari stress karena tidak perlu mengurus tetek bengek seperti layaknya memiliki pabrik.

Dan itu benar adanya, jika anda memperhatikan jumlah peraih income seluruh agen Allianz yang memiliki penghasilan di atas Rp 1 Milyar dari tahun ke tahun terus meningkat, dari 144 orang (2014) menjadi 189 orang (2015). Bukan hanya 1 milyar bahkan banyak yang telah meraih income Rp 2,3,4,5,6,7 hingga 17 Milyar/ tahunnya.

Agen baru yang tidak terbiasa bergaul dengan lingkungan seperti ini akan mengalami keterkejutan luar biasa, belum lagi jika mengikuti seminar Live Today Univision mengajak semua peserta untuk berani menetapkan impian sebesar yang bisa mereka jangkau, rumah mewah, mobil, trip keliling dunia, membantu mereka yang susah atau membangunrumah ibadah. Rasanya hidup seperti dalam mimpi saja!

Belum lagi melihat fakta ASN Allianz setiap tahunnya 2-3 kali memberangkatkan para agen dari puluhan hingga ratusan agen jalan-jalan ke luar negeri. Dari kawasan asia, eropa, amerika bahkan tahun 2017 ini menawarkan agennya memilih mau trip ke negara mana, terserah tinggal tentukan dan Allianz yang memberangkatkan.

Sebagai agen baru yang ingin hidupnya penuh dengan suasana keberkahan dan kesucian, rasanya seperti berdosa jika hidupnya dikelilingi dengan kemewahan harta, seakan harta benda akan menjauhkan kita dari kampung akhirat.

Maka muncullah alibi, “untuk apa kaya jika tidak bahagia?” Sebagai alasan pembenaran karena kita belum berprestasi.

Dengan pertanyaan yang sama, dapatkah anda bahagia dengan hidup miskin?

Hidup kaya tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan, sama juga dengan kemiskinan yang seringkali bikin susah anak istri kita ketika mau sekolah selalu terhambat.

Untuk membantu anda saya kupas cerita dari kawan baik saya sehingga akhirnya saya berhasil menjawab keresahan saya sendiri, yang sudah tertanam puluhan tahun sejak saya SMA (1987) hingga usia saya mencapai 36 tahun barulah benar-benar saya mantap menatap masa depan saya sendiri. 

Saya takut jika memiliki predikat Hubbud Dunya, artinya terlalu mencintai dunia, apalagi jika disebut wong Kemaruk harta/ orang yang serakah dengan harta.

Karena tidak ada artinya peluang bisnis atau produk bagus untuk dipasarkan jika persepsi saya mengenai kemakmuran masih kacau balau.

Kisah Bagong dan Sri 

Pada suatu hari, Sri datang ke rumah Bagong dengan maksud mengajaknya untuk berbisnis di Allianz.

Setelah bersalaman & mengucap salam, perbincanganpun dimulai. “Gong, ayo ikut bisnis dengan saya…!”, ajak Sri

Bagong menjawab lantang, “Saya tidak mau.” Kemudian Sri bertanya, “Kenapa?” “Saya takut kaya.“, jawab Bagong.

Sri kaget & berfikir jauh ternyata ada orang yang takut kaya. Sri merasa bahwa Bagong sangat faham kalau menjalankan bisnis resikonya adalah menjadi orang kaya. Lalu Sri bertanya, “Kenapa kamu takut kaya?” “Saya takut hubbuddunya alias takut cinta kepada dunia atau kemaruk”, jawab Bagong mantap. 

Dalam hati, Sri berkata, “Luar biasa kawan saya ini, sudah ganteng, ia orang yang nampak sholeh.. Ya Allah sesungguhnya laki2 seperti inilah yang harusnya kaya, karena kalau kekayaan dipegang sama orang-orang sholeh, insya Allah membawa rahmat (rahmatan lilalamin). Tapi sayangnya ada banyak orang yang sholeh malah tidak mau kaya, sedangkan yang sudah kaya tidak mau jadi orang sholeh.” 

Kemudian Sri bertanya, “Apakah cinta dunia dan kemaruk itu penyakitnya orang kaya saja?” 

Jawab Bagong, “Tidak, Orang miskinpun banyak yang menderita penyakit ini.” Sri pun berkata, “Kalau begitu, masalahnya bukan di kaya atau miskinnya. Tapi bagaimana sikap kita terhadap harta.”

Kadang orang yang tak punya uang dengan mentalitas buruk justru lebih kelihatan kemaruknya..sampai tak ada waktu untuk melihat kebaikan orang lain, kecuali melihat dari apa yang dia miliki, apa yang dia pakai, dan sebanyak apa uangnya. Setiap hari setiap saat mikirkan orang dari ukuran uangnya.

Orang yang kemaruk , jika bertemu orang yang memiliki banyak uang, jadi lemah keyakinan dan prinsip hidupnya…dihina pun diterima. Kalo ada orang kaya yang memiliki berpendapat salah, tetap saja dibenarkan, yang penting biar hatinya senang agar dia dapat keuntungan atau bisa diberi uang.

Seperti contoh keteladanan nabi Sulaiman as, dalam doa yang selalu dipanjatkan kepada Tuhan, dia meminta agar menjadikan harta nya cukup berada ditangannya saja bukan bermukim di hatinya. Karena di dalam hati dan pikirannya hanya boleh dipenuhi oleh rasa keimanan dan ketundukan kepada Tuhan saja. 

Orang kaya yang beriman, uangnya ada di “tangan” dan Tuhannya tetap ada di hati dan pikirannya.

Apa yang ada di tangan dapat diletakkan kapan saja, sedangkan apa yang tertanam di hati dan pikiran akan dibawa kemana saja.

Orang miskin yang kemaruk, uangnya selalu ada di hati dan di pikirannya sedangkan Tuhannya hanya ada di “tangannya” bahkan bisa diletakkan kapan saja.

Mana yang Anda suka, sering bergaul dengan Bagong atau dengan Sri ?

Univision bertekat akan membantu anda memiliki hidup yang seimbang menjadi Kaya dan Beriman, Santun yang bermartabat. Atau dalam bahasa kepemimpinan disebut memiliki Integritas. 

Apa yang dikatakan dan yang diyakini sama dengan apa yang dilakukan.

Univision akan membantu anda untuk meletakkan uang kita hanya di tangan kita sendiri.

Univision bertekat membantu anda meletakkan Tuhan dan kebenaran dalam hati dan pikiran kita, kapanpun dan dimana pun. 

Apapun keyakinan agama anda semua sepakat bahwa kebaikan adalah kebaikan, kebenaran adalah kebenaran. 

Kejujuran dan kepalsuan tidak dapat dicampur aduk dalam satu diri. Keteladanan dan tindakan manipulasi tidak pernah jalan seiring. Mungkin sebagian bisa, tetapi menjadi pribadi yang memiliki integritas adalah pilihan yang lebih baik.

Memiliki integritas dalam hidup adalah jalan yang membuat anda sukses dan bahagia. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: