Alasan Bagong Menolak Asuransi (1)

kacamata

Bagong berkata kepada saya melalui media sosial bahwa mau mengajukan pemberhentian pembayaran premi polis asuransinya.

Saya bertanya ” Kenapa Bagong ingin berhenti?”

“Anu … saya ingin membebaskan hidup saya dari segala unsur riba dan segala hal yang dilarang oleh agama”

“Saya Setuju gong, saya pun tidak ingin terjerat dalam unsur riba yang dilarang agama. ”

“Makanya saya mau berhenti untuk meneruskan polis asuransi saya”

“Berarti asuransi menurutmu dilarang agama, begitu ? boleh saya tahu alasan dilarangnya karena apa ?”

Berikut ini beberapa hal yang saya pahami mengapa Bagong menolak asuransi.

Alasan menolak asuransi

Pertama, Melandaskan pada alasan klasik bahwa asuransi adalah akad untuk mencari keuntungan (mu’awadhot).
Menurut HR Muslim no 1513 bahwa Rasulullah saw melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli ghoror (mengandung unsur ketidak jelasan)

Alasan ini kurang pada tempatnya, karena hanya ada dalam komentar, obrolan atau canda tawa omong kosong nasabah bukan pada praktek sesungguhnya, contohnya “wah istri bisa kaya raya kalau saya punya warisan 1 Milyar..hahaha”

Karena bagaimana bisa saya mengasuransikan orang tua, anak atau pasangan saya dengan berharap keuntungan atas musibah yang menimpanya.
Dapatkah diterima dengan akal sehat, saya mengharapkan terjadinya musibah sakit kritis kepada orang tua atau berharap anak saya segera meninggal untuk segera mengambil dana klaim asuransi ?

Alasan utama memiliki asuransi adalah sebagai bentuk ikhtiar manusia yang diberikan akal sehat agar terhindar diri dari musibah finansial yang dapat dialami oleh keluarga pada saat kita mengalami sakit kritis atau meninggal.
Hal ini sebagaimana perintah nabi saw untuk mengikat onta terlebih dahulu sebelum bertawakkal. Faidza azamta fa tawakkal ala allah.

jika seseorang mengalami musibah sakit tentu dampak yang terjadi tidak bersifat tunggal karena selain rasa sakit yang dialami penderita dampak lainnya adalah konsekuensi finansial untuk pengobatannya, berhentinya pendidikan anak kita, berhentinya sumber income dari tempat kita bekerja karena terpaksa harus diberhentikan akibat sakit kritis, terganggunya pelaksanaan pembayaran hutang jika ada. Keadaan ini akan sangat mudah diprediksi jika pasangan kita tidak bekerja.

berlanjut….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: