Tanda tangan di atas perut

tanda-tangan-di-atas-perut-2

Agen Asuransi tanda tangan di atas perut ?

Beragam asumsi miring tentang profesi agen asuransi masih berkeliaran hingga saat ini, meskipun semakin berkurang seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai manfaat asuransi.

Salah satu yang paling ‘kasar dan tidak sopan’ adalah transaksi asuransi bisa terjadi di atas perut. Saya agak heran dengan statemen ini, karena perut saya sekarang tidak lagi rata seperti saat masih remaja. Mungkin yang masih bisa dipakai adalah punggung saya, sambil tanda tangan boleh lah para nasabah memijati pundak saya.

Bagaimana menghadapi Statemen Kasar dan Tidak Sopan ?

Anda tidak perlu meradang jika merasa laki-laki, karena sasaran tembaknya adalah agen asuransi yang berjenis kelamin perempuan. Meskipun saya ikut gemas mendengar curahan hati tim agen saya, yang diperlakukan dengan cara yang kurang pantas. Bagaimana ceritanya ?

Agen saya, sebut saja “Bunga” seorang perempuan yang memiliki latar belakang dan pendidikan sangat bagus memiliki janji bertemu dengan calon prospeknya seorang pria paruh baya sebut saja namanya ‘Bangke’. Setelah keduanya sepakat untuk bertemu di sebuah warung kopi. Setelah Bunga selesai menjelaskan program Tapro Allianz, tibalah giliran bangke mengajukan komentarnya, sambil menyeruput kopi panas dan menyulut rokok berkata “Saya tidak suka dengan profesi agen asuransi, karena cara mereka menjual adalah dengan tanda tangan di atas perut”.

Tentu mendengar respon dari Bangke ini, si Bunga terperanjat dan diam membisu. Masih terlihat jelas biji kopi menempel di kumis Bangke yang tipis jarang-jarang. Sedangkan Bunga adalah sosok perempuan yang santun dan berkerudung. Tanpa basa basi, Bunga langsung meninggalkan Bangke dengan berkata lirih, “Mungkin Bapak salah menilai saya, mohon maaf pak saya harus pergi”

Bunga pergi meninggalkan Bangke.

Bagaimana mengatasi persepsi negatif seputar tanda tangan di atas perut ?

Mungkin, karena Bunga belum pernah menghadapi model prospek seperti ini sehingga langsung ditinggalkan pergi. Wajarlah, karena Pelatihan di Univision belum tuntas diikuti dan jarang konsultasi dengan mentornya.

Daripada meninggalkan Bangke akan lebih elegan jika Bunga memberikan penjelasan, karena sebagai agen asuransi pantang untuk menyerah sebelum prospek mengatakan “tidak”. Selama prospek masih berputar-putar dengan segala macam mitos yang menyesatkan masih ada celah untuk membantu mereka untuk memiliki Proteksi bagi masa depan keluarganya.

Bagaimana Seharusnya ?

Anda bisa mengatakan seperti ini “Betul sekali pak Bangke, memang ada yang melakukan seperti itu, bukan hanya di industri asuransi, di beberapa bidang juga terjadi. Tetapi bolehkah saya menjelaskan faktanya agar Bapak lebih objektif dalam memberikan penilaian. Di jaman dulu, produk asuransi masih dianggap sebagai barang mahal dan hanya orang-orang kaya saja yang bersedia untuk memiliki proteksi. Saat saya masih remaja, masih ada asumsi setelah memiliki tabungan di bank, kemudian meningkat lebih tinggi memiliki deposito selanjutnya asuransi. Jadi produk asuransi di jaman dahulu, diperuntukkan hanya untuk orang kaya saja. Sehingga sangat sulit produk ini untuk dimiliki oleh orang-orang yang ekonominya pas-pas an. Belum lagi, sistem seleksi dan edukasi para agen tidak sebagus sekarang. Saat ini, untuk menjadi agen asuransi harus melalui ujian untuk memperoleh lisensi karena produk yang diperkenalkan berhubungan dengan konsep investasi dan perlindungan keuangan setiap nasabahnya jika terjadi resiko sakit kritis atau kematian. Bagaimana dengan kondisi 10 tahun terakhir mengenai industri asuransi? seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memiliki proteksi, maka perusahaan asuransi mulai memberikan kesempatan bagi masyarakat kelas menengah dan kelas bawah untuk memiliki asuransi jiwa. Mereka dengan anggaran sangat minim bisa memiliki proteksi, di Allianz anda bisa mulai dari setoran premi paling kecil sebesar Rp 300.000/ bulan atau Rp 1.500.000/tahun. Apakah cukup masuk akal jika saat ini saya membantu seseorang untuk memiliki proteksi dana cash sebesar Rp 300 Juta dan untuk itu harus menggadaikan kehormatan saya, serta menghancurkan reputasi perusahaan Dunia sebesar Allianz?

Seandainya, Pak Bangke jadi saya dan paras wajah Bapak semenarik saya, kira-kira apakah Bapak bersedia untuk tanda tangan di atas perut jika nasabahnya setor preminya Rp 300.000 ? Ini saja kopi dan kuenya sudah saya bayar barusan pak. Untung saja bapak ga punya rambut, sehingga ga ada perempuan bisa menjambak jambak rambut Bapak?

Hehehe… untuk yang paragraf terakhir itu tidak saya sarankan untuk anda sampaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: