Peraturan bagi Perusahaan Penjualan Langsung

SIUPL 1Tidak semua perusahaan yang memasarkan produk dan jasa dengan sistem jaringan menerapkan dan mematuhi regulasi yang sudah ditetapkan sejak 2006.

Kembali kepada anda masing-masing, Percaya atau tidak.

Sebagai mantan distributor bisnis berbasis jaringan atau MLM fokus utama pada awalnya adalah bagaimana memahami fitur produk serta rencana kerja pembagian komisi atau Marketing Plan. Sembari memikirkan siapa yang bisa diajak berdiskusi mengenai peluang bisnisnya.

Jadi tidak sempat terpikirkan apakah produk atau bisnis yang sedang digelutinya sudah memenuhi ketentuan yang ada, karena para distributor MLM senantiasa bersangka baik kepada pihak perusahaan bahwa hal itu sudah pasti ‘beres’.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Beberapa oknum perusahaan memanfaatkan para distributor yang tidak tahu apa-apa ini menjadi obyek pendulang rupiah secara berkesinambungan.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, serta mengalami dan mengamati perkembangan bisnis jaringan perlulah kiranya bagi anda yang sedang diprospek untuk bergabung meneliti lebih jauh mengenai aspek paling mendasar dari sebuah bisnis : Peraturan yang sedang berlaku di negara Republik Indonesia.

Tidak cukup hanya mempelajari siapa pendiri perusahaannya, reputasinya atau keunggulan produknya sebelum menanyakan legalitas dari perusahaan atau produk yang akan dipasarkan. Mengapa demikian ?

Karena dasar para pelanggan atau calon distributor bergabung 100% disebabkan oleh diri anda, bukan performance perusahaan. Karena pada umumnya perusahaan jaringan hanya tampil di dunia maya melalui website atau selebaran brosur produk.

Informasi mengenai legalitas perusahaan tidak dapat diakses dengan mudah. Jikalau mereka bertanya dianggap terlalu kritis, bahkan dianggap sebagai pengganggu saja.

Bagaimana jika perusahaan tersebut gulung tikar ? Siapa yang dicari pertama kali ? Perusahaannya atau sponsornya langsung ? Tentu saja, anda yang menjadi incaran pertama kali oleh downline anda yang merasa menjadi korban.

Dahulu, saya tidak terlalu memperdulikan aspek legal formal dari sebuah bisnis berbasis pemasaran bertingkat. Selama produknya bagus menurut testimoni saya pribadi atau pelanggan dan bonus dibayar tepat waktu rasanya tidak ada waktu untuk mencari tahu tentang Goodwill dan iktikad perusahaan MLM tersebut.

Ragam Perusahaan MLM

Bagi masyarakat awam setiap perusahaan yang memasarkan produk atau jasanya dengan sistem berjenjang pasti dianggap MLM. Padahal sesunguhnya tidak demikian.

Untuk bisa menentukan dia termasuk perusahaan Multi Level Marketing atau tidak dapat diukur dari konsep marketing plannya.

Beberapa konsep marketing plan yang pernah saya kenali diantaranya :

  1. Sistem Matahari / break away. Anda bisa mensponsori siapa saja tanpa ada batas jumlah orang. Dari satu orang hingga ratusan orang secara langsung. Sistem ini yang disebut MLM murni. Model perusahaan seperti ini bagi para pelaku / leader MLM dianggap sudah kuno, karena komposisi bonusnya tidak besar. Padahal justru yang seperti inilah rata-rata sudah memenuhi dan mematuhi peraturan negara. Pada umumnya mereka telah tergabung di APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia). Anda bisa melihatnya di website resmi di sini : APLI
  2. Sistem Binary – Trinari. Anda hanya bisa mensponsori 2 atau 3 orang saja. Selebihnya akan diletakkan di bawah anda. Model perusahaan seperti ini yang paling menarik, karena bonusnya lebih besar dan ragamnya lebih banyak. Mulai dari bonus pasangan, bonus sponsorisasi, bonus kepemimpinan, bonus leveling, bonus tutup poin, bonus reward trip atau kepemilikan mobil mewah. Sistem seperti ini yang paling sering berpotensi melanggar ketentuan negara karena berbagai alasan. Dan sistem ini yang paling rentan karena mudah buka tetapi mudah pula tutup. Sistem ini dipergunakan hampir 80% oleh para pendiri perusahaan.
  3. Sistem Hybrid – Big Leg Lesser Leg / Kaki Besar Kaki Kecil. Sistem ini hampir sama dengan point no 1 di atas. Cenderung aman, meskipun tidak terlalu booming di Indonesia. Saya tidak tahu mengapa masih kalah menarik dibanding sistem binari.
  4. Sistem Direct Selling. Metode pemasarannya lebih menitik beratkan kepada penjualan produk. Konsep pendidikannya berkutat kepada bagaimana menjual dan menguasai produk. Layaknya agen asuransi pola lama. Sangat jarang sistem direct selling ini menghadirkan support system.
  5. Model Board. Pola ini termasuk yang hadir belakangan, dan 100% gagal memberikan solusi bagi masyarakat Indonesia sebagai bisnis ideal. Mengapa demikian ? Karena hampir punah meskipun sistemnya tergolong paling baru. Pola sistem board ini mirip sistem antrian. Siapapun yang sudah memenuhi matriks kotak boardnya secara otomatis akan mendapatkan hadiah.
  6. Kombinasi nomor satu hingga nomor 5. Nampaknya persaingan sedemikian ketatnya sehingga perusahaan MLM akan habis-habisan menggelontor berbagai rangsangan bonus, agar supaya membernya tidak pindah ke perusahaan lainnya. Apa yang terjadi ? Jika sistem perhitungannya tidak jitu, dapat berakibat Over Pay – kelebihan bayar . Dan hal ini akan membahayakan kelangsungan perusahaan di masa depan karena profit yang diterima terlalu sedikit. Kemungkinannya hanya dua : Setelah mencapai member cukup besar perusahaannya langsung tutup atau merubah marketing plan, merubah perjanjian nilai pembayaran bonus.

 

Berikut ini sebagai informasi penting bagi anda yang sedang bergabung atau akan bergabung di perusahaan penjualan langsung. Data ini kami ambil dari sumber langsung dari Kementrian Perdagangan RI

APA YANG DILAKUKAN DAN TIDAK DILAKUKAN PERUSAHAAN PEMASARAN BERJENJANG ?

YANG DILAKUKAN DAN TIDAK DILAKUKAN OLEH PERUSAHAAN PENJUALAN LANGSUNG

pasal 1.b Memiliki modal minimal 500 juta

SIUPL 2
pasal 2.m Memberi waktu 10 hari jika membatalkan pendaftaran
pasal 2.n Memberi waktu 7 hari uang kembali jika barang tidak sesuai dgn perjanjian
SIUPL 3pasal 3.b Jumlah komisi maksimal 40%

SIUPL 4
pasal 6. Setiap perusahaan wajib memiliki SIUPL dan memperpanjang setiap tahun

SIUPL 5
pasal 13.f Menjadi anggota dengan nama sama lebih dari satu
pasal 13.h Kegiatannya menghimpun dana masyarakat

SIUPL 6
pasal 21. Perusahaan penjualan langsung dan tidak memiliki SIUPL dikenai sangsi pidana

SIUPL 7

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: