Jadi agen asuransi lupa akheratnya

Menjalani hidup biasa biasa saja adalah musuh besar hidup luar biasa. Bangsa ini berdiri dan dibangun dari mimpi besar menuju masa depan lebih baik, dan bersedia mewujudkannya.

Agama yang saya pahami tidak mengajarkan manusia untuk berfikir sempit, jumud dengan menghindari dunia.

Bagaimana bisa menjadi rahmat seluruh alam semesta jika tidak mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya ?
Tidak ada gunanya Allah SWT berfirman tentang perintah untuk berfikir, memahami alam semesta, bagaimana gunung ditinggikan, binatang dilahirkan? Bukankah peradaban ini diawali dari kesuksesan mahakarya para pendahulu kita di bidang pengetahuan?

Penggunaan teks Dunia berbeda dengan Duniawi. Antara donya ( bahasa jawa) berbeda dengan kedonyan.

Banyak orang miskin yang ‘hidup kedonyan’ karena dia jadikan kelebihan dan kekurangan hartanya masuk dalam hati dan pikirannya.

Melihat segala sesuatu dari ukuran harta, membenci esensi keberlimpahan, mengukur orang lain dari kekayaannya.

Orang seperti ini dalam pikiran saya adalah golongan kedonyan, terperosok belenggu duniawi.

Mereka Benci dengan harta, benci dengan orang yang berjuang meraih kemakmuran tetapi masih membutuhkan.

Orang yang berfikir kaya tahu bahwa harta itu hanyalah harta, tidak lebih.

Harta diletakkan di tangannya, bukan dipikul di hati dan pikirannya. Hanya Tuhan dan Rasul suci yang boleh memenuhi hati pikirannya.

Mereka memiliki misi dan impian besar dengan harta yang dimilikinya.
Orang besar digerakkan oleh tujuan besar.

Mereka memahami bahwa tujuan besar membutuhkan sumber daya besar pula, diantaranya adalah pengetahuan dan kekayaan.

Saya tidak membenci orang kaya tetapi kita dilarang untuk bakhil dan pelit atas apa yang kita miliki.

Saya membenci kebodohan, kedunguan dan pikiran merasa tak berdaya.

Belum berjuang atau gagal berjuang, secepat kilat bersembunyi di balik jubah kesalehan untuk menghindari dunia. Padahal, sumber masalahnya adalah rasa kemalasan, keengganan untuk berubah, dan kehilangan kemampuan mendengar kritik membangun dari teman atau pasangannya.

Mari kita bereksplorasi segenap tenaga di bidang apapun, karena waktu kita begitu terbatas.

Marilah menjadi penemu dan agen perubahan.

Buat apa “hidup” jika waktunya dihabiskan hanya untuk membenci, bersikap apatis terhadap dunia, ingin segera mati dengan bekal yang tidak seberapa di dunia.

Jika anda tidak bisa merubah wajah dunia, setidaknya rubah wajah keluarga dan diri anda sendiri.

Wajah anda nampak tampan di mata istri anda karena peluh keringat dan tekad perjuangan tanpa lelah.

Percayalah, istri anda tidak suka dengan suami yang rajin mengeluh, lemah tak berdaya, alay dan lebay.

Resiko jadi Agen asuransi

Banyak teman saya yang bernada sinis dan pesimis dengan perjuangan menuju tangga sukses.

Sangat wajar jika mau berhasil, setiap agen asuransi wajib mengorbankan waktu dan pikirannya pada satu titik fokus menuju MDiT.

Mereka bekerja setiap hari, bertemu dengan lima hingga sepuluh prospek setiap harinya. Sedikit demi sedikit mereka mengumpulkan prestasi dan pengalaman hingga tanpa terasa bahwa apa yang sudah dikerjakan dan dikumpulkannya bisa menjadi sedemikan besar dan banyak.

Penghasilan yang diperoleh agen asuransi Allianz yang memiliki komitmen menekuni kariernya 10 tahun ke atas bisa sangat fantastis, dari ratusan juta hingga milyaran rupiah setiap bulannya.

Tetapi, tidak jarang hasilnya belum secemerlang rekan lainnya.

100% semua agen asuransi paham dan setuju bahwa harga yang mereka bayar untuk sukses adalah berupa penolakan, dijauhi teman, kehilangan teman, jadi pusat gosip bahkan dituduh melakukan perilaku tak pantas untuk sukses.

Saya tidak bisa lagi ingat dan menghitung berapa ratus orang yang sudah menolak untuk ikut asuransi selama sesi presentasi yang kami lakukan.

Saya tidak peduli dengan pilihan mereka. Mau ikut atau tidak.

Jika mereka enggan membayar premi, faktanya mereka harus siap bayar klaim. Entah kapan musibah sakit akan datang ? Entah berapa banyak uang yang akan menguap sia-sia saat ayar klaim. Itu emua, karena tak mau bayar premi.

Kedua, saya menilai orang yang tidak membayar premi asuransi dengan alasan apapun, tak lebih dari seorang kepala keluarga yang tak peduli dengan masa depan anaknya. Mereka begitu tega memaksa istrinya mencari pekerjaan dan hutangan buat bayar obat di masa ‘nanti’ saat usia sudah tidak lagi muda.

Jangan tawarkan asuransi, nanti dijauhi teman-temanmu’

Suara itu, sering kali berkecamuk dalam lintasan pikiran saya selama jadi agen asuransi.

Dan itu, cukup efektif menyurutkan semangat saya untuk memulai presentasi pertama saya.

Faktanya, mereka yang merasa setia sebagai teman saat teman lainnya sakit hanya membantu seikhlasnya, bahkan dengan nilai yang sekedarnya saja.

Belum pernah saya melihat teman-teman saya mengirimkan uang cash dua ratus juta atau semilyar kepada saudaranya sendiri apalagi kepada keluarga teman-temannya.

Saat anda bangkrut, hanya tinggal sedikit yang bersama anda. Percayalah, saya pernah mengalaminya.

Saat bangkrut dan tubuh sehat saja tidak ada yang hadir apalagi saat anda sakit ?

Teman-teman saya yang takut memulai bisnisnya karena takut kehilangan teman justru kehilangan teman duluan sebelum ditawari asuransi.

Mana ada sahabat yang menolak untuk ikut ajakan sahabatnya ? Jangan-jangan anda menganggap mereka sahabat, padahal mereka anggap anda hanya obyek pelengkap kesuksesan mereka saja. Anda dibutuhkan saat anda punya, dan anda ditinggal saat tidak lagi menguntungkan buat mereka.

Jadi agen asuransi, jadi lupa akheratnya.

Ini juga statement yang saya tidak mengerti apa maknanya.

Seakan-akan mereka sudah pernah kesana?

Petuah yang nampak bijak dan dibalut cita rasa agama kelihatannya cukup masuk akal didengarkan.

Bukankah, memiliki proteksi asuransi justru menghindarkan diri kita dari tuntutan hutang di akherat kelak?

Jika yang dimaksudkan adalah, karena begitu sibuknya melakukan presentasi sehingga lupa sholat, zakat, bersedekah, dan ibadah ritual lainnya maka disinilah saya mulai takjub dengan cara pandang teman saya tentang orang lain.

Saya bersangka baik bahwa mereka mengatakan hal itu bukan lantaran karena cemburu atas kesuksesan orang lain. Mungkin benar-benar mereka mengingatkan untuk lebih saleh dan taat kepada TuhanNya.

Tetapi, mengapa justru peran itu yang mereka ambil? Mengamati hingga pada area sensitif setiap orang?

Yang saya pahami jika, seseorang mulai merasa tidak nyaman dengan profesinya, mulai merasa kurang berhasil, mulai merasakan bahwa asuransi bidang yang sulit, mulai jarang datang di pertemuan, lebih banyak bergaul dengan orang lain yang belum berhasil di bidang ini, merasa semakin kalah jauh dari prestasi orang lain, mulai menyempatkan diri melihat peluang lainnya, dan mulai merasa terasing dari cara berfikir teman-temannya, maka sangat wajar untuk mencari sisi kesetimbangan dalam dirinya.

Harus ada alasan yang bisa diterima dirinya sendiri mengapa tidak sesukses harapannya ? Dan mulai membuat pengecualian. Lebih baik ibadahku baik daripada pekerjaanku sukses.

Untuk apa giat mengejar kesuksesan duniawi jika lupa akheratnya ?

Dalam bahasa saya, Karena karier bisnis sayalah maka ibadah saya kurang sempurna.

Untuk apa giat berjuang jika hasilnya tidak ada, karena saya kehilangan gairah di bisnis ini ?

Yang membuat kebanyakan orang sulit berhasil bukanlah karena kegagalan, tetapi cara berfikir yang buruk tentang diri sendiri dan orang lain yang membuat kita kesulitan melihat masa depan

Blog di WordPress.com.

Atas ↑