Sini yem sama om saja.

Saya bergabung di bisnis Allianz sejak 2013.

Cukup banyak teman saya bergabung sebagai agen dan nasabah. Termasuk temannya teman teman saya. Mereka mengajak temannya, agar semua temannya bergabung.

Mbulet ya ?

Memang seperti itulah bisnis berbasis jaringan manusia.

Rupanya tidak semuanya berhasil. Dan tidak semuanya gagal. Ada yang berhasil, sedang bertahan, akan berhenti dan ada pula yang sudah berhenti permanen, bahkan lupa jika pernah menjadi agen atau nasabah Allianz.

Segala upaya rangsangan dihadirkan, diberikan melalui reward dan penghargaan. Namun hasilnya sama saja, ada yang sukses ada yang berhenti.

Menghadirkan pembicara sukses dan yang telah terbukti memiliki income ratusan juta per bulan selama 10 tahun lebih dari asuransi Allianz. Sama juga ada yang semangat, ada pula yang sinis bahwa itu hanya settingan.

Dibantu untuk meyakinkan prospeknya dengan sukarela, tanpa bayar tanpa resiko apapun. Tetap saja sama ada yang mati matian memperkenalkan sebanyak mungkin orang dari daftar namanya, ada pula yang datang sendirian gondal gandul manggut manggut tanda tak mengerti selama sesi presentasi.

Sekarang 2019, beberapa teman baik saya ada yang bertahan karena keyakinannya dan beberapa tertahan karena kekhawatirannya.

Saya sering bertanya dalam benak pikiran saya, sesungguhnya “Apa sih yang kamu takutkan ?”

Ketakutan, kekecewaan dan menyalahkan diri sendiri atau orang pada dasarnya membawa kita kepada kemunduran.

Terapkan pada bidang apa saja, maka anda akan terjatuh dan terperosok dalam hingga tak ada yang bisa menolong, meski semuanya ingin membantu.

Jadi jangan dicoba ya.

Uniknya kebanyakan teman saya memilih : lebih baik gagal daripada sukses, karena resiko untuk gagal terasa lebih mudah dan nyaman bila dibandingkan dengan resiko harus berjuang melawan diri sendiri untuk menjadi sukses.

Padahal dalam rentang waktu jangka panjang, saat usia sudah tidak lagi muda hidup gagal pada akhirnya jauh lebih susah dan menyakitkan.

Hidup luar biasa adalah impian banyak orang, meski mereka hanya bisa mengaguminya saja. Tidak apa-apa daripada mengagumi hal hal yang buruk, bukan ?

Seperti puisi jeritan hati teman saya yang gagal melamar Kartika putri, ayu ting ting, BCL dan Dian Sastro via medsos, dia bilang cinta kan tidak harus memiliki, iya gak?

Dia hanya menghibur diri saja.

Daripada sulit punya istri cantik, mending ama si yem tetangga sebelah yang sering ngantar cucian kiloan.

Meski tidak cantik, tapi kalau ngucek dia telaten.

Sini Yem… dipangku om boneng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: